Photobucket

Rabu, 11 Januari 2012

Baby Walker, Kapan diperlukan...?


Banyak alasan yang mendasari keinginan membeli baby walker. Umumnya ditujukan untuk melatih bayi menggunakan otot kaki. Ini kerap menjadi alasan utama. Dalam praktiknya banyak juga ibu menjadikan baby walker sebagai alternatif permainan untuk menyibukkan bayi saat ibu melakukan kegiatan lain, atau menjadi alat bantu yang membuat bayi merasa fun dan anteng saat diberi makan. Namun banyak juga orang tua yang membeli baby walker hanya karena lantaran ikut-ikutan tetangga atau teman.

Dr. Karel A.L. Staa, MD, spesialis anak dari Jakarta mengatakan setidaknya ada dua hal yang perlu disorot dalam memutuskan apakah akan menggunakan baby walker atau tidak. Pertama soal keamanan, dan kedua soal perkembangan motorik anak.

Tidak Aman?
Fakta yang ada menunjukkan penggunaan baby walker cenderung membawa dampak negatif pada tumbuh kembang bayi, bahkan menjurus pada keadaan yang bisa membahayakan keselamatan anak.

American Academy of Pediatric (APP) mengungkapkan bahwa pengunaan baby walker bisa mendatangkan kecelakaan atau cedera pada bayi. Di tahun 1999 di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 8.800 bayi usia 15 bulan masuk rumah sakit karena menggunakan baby walker. Dan dalam rentang tahun 1973-1998 tercatat 34 bayi meninggal karena alat ini. Tak terelakkan, fakta ini membuat baby walker menuai pro dan kontra selama berbilang tahun.

Memang ada banyak anak memakai baby walker dan aman-aman saja. Sebaiknbya jangan buru-buru mengambil kesimpulan sebelum mendengar pendapat ahli.  Karel  mengatakan kata “aman-aman saja” tidak bisa dijadikan patokan bahwa baby walker benar-benar aman untuk anak. “Ibarat berjalan di lantai yang licin. Ada anak yang terjatuh ada yang selamat. Toh, kita tidak bisa mengatakan lantai licin itu tidak berbahaya bagi anak. Begitu juga dengan penggunaan baby walker,” kata Karel.

Salah satu penyebab kecelakaan ketika menggunakan baby walker adalah anak dapat bergerak leluasa, sehingga bisa menggelinding di tangga, terjepit daun pintu, atau menjangkau benda-benda berbahaya bagi anak (seperti gunting, pisau, gelas berisi air panas). Ada juga orang tua yang berpendapat bahwa boleh saja menggunakan baby walker selama anak diawasi. Kenyataannya penelitian menunjukkan mayoritas kecelakaan akibat baby walker terjadi disaat anak dalam pengawasan orang tua maupun pengasuh. Ini karena baby walker memungkinkan anak bergerak cukup cepat, rata-rata 1-3 meter perdetik. Anak terlanjur bergerak ke arah yang membahayakannya sebelum pengawas sempat menghentikannya. 

Masalah Motorik
Banyak orang tua berminat membelikan baby walker karena propaganda yang mengatakan alat ini bisa membuat bayi cepat pandai berjalan. Kenyataannya tidak demikian. Karel mengatakan baby walker berpotensi mengganggu perkembangan motorik kaki anak. Sebab, untuk bergerak anak hanya perlu menggunakan sebagian serabut motorik otot kaki. Misal dengan menggerakkan ujung jari dan mengandalkan otot-otot betis, dalam posisi duduk sekalipun, anak bisa berpindah tempat.

Sementara untuk bisa berjalan dengan benar dan lancar, anak perlu melatih otot paha dan pinggul. Dan ini sering tidak terpenuhi bila anak dibiasakan bermain dengan baby walker. Akibatnya otot tungkai tidak terlatih untuk menyangga tubuh anak saat berjalan. Anak jadi sering jatuh. Hal ini bisa menimbulkan trauma yang membuat anak takut melangkah, dan akhirnya membuat dia lambat pandai berjalan. Ditambah lagi ada efek psikologis yang membuat anak malas berjalan mandiri karena baby walker membuatnya terbiasa bergerak ke sana kemari tanpa susah payah menjejakan kaki di lantai.

Baby walker juga dicurigai sebagai salah satu penyebab kelainan kaki pada anak. Pasalnya duduk mengangkang di dalam baby walker bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Para ahli menduga banyaknya anak berjalan seperti bebek atau mengangkang karena pengaruh baby walker. 

“Bila ingin melatih motorik kaki, lebih baik anak dilepas di lantai dan belajar berjalan secara alami dengan kaki terlanjang,” kata Karel. Cara ini bisa melatih seluruh serabut motorik otot, mulai dari otot betis, paha, sampai pinggul, juga membantu merangsang koordinasi jemari kaki,  sehingga memembuat anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jika anak mengalami jatuh bangun, itu hal biasa yang justru memberi pengalaman pada anak untuk tidak mudah menyerah.

Tentunya belajar berjalan secara alami ini membutuhkan bantuan dan pengawasan orang tua. Ada beberapa persiapan sederhana yang perlu dilakukan, seperti memastikan lantai dalam keadaan bersih dan tidak licin. Satu lagi saran Karel. Ajaklah si kecil berenang. Kegiatan yang satu ini membuat seluruh otot tubuh bergerak, temasuk kaki, lengan, dan leher. Dan ini sangat bagus untuk merangsang perkembangan motorik anak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...