Photobucket

Kamis, 28 Juli 2011

Waktunya Stop Dot Bayi

MENURUT teori Sigmund Freud, usia 0 - 12 bulan berada dalam fase oral, dimana bayi mencari kepuasan dengan mengisap-isap benda yang ada di dekatnya. Tak heran jika bayi sering terlihat asyik mengisap jari, ujung sarung bantal, selimut, mainan dan benda apa pun yang berada dalam jangkauannya.

Oleh karena itu dibuatlah empeng, untuk memuaskan kebutuhan bayi pada fase oral tersebut. Namun masalahnya jika kebiasaan mengempeng ini tidak dihentikan secara bertahap, dapat membuat anak sulit menghentikannya dan sangat mungkin terbawa sampai anak memasuki usia sekolah. Berikut cara mudah si kecil lepas dari empeng dari Meriyati Budiman, M.Psi.

Setelah Satu Tahun, Stop!

Sebaiknya hentikan penggunaan empeng secara bertahap, mulai usia 7 bulan sampai 1 tahun. Karena selepas usia setahun, anak tidak berada dalam fase oral lagi. Sehingga, keinginannya untuk mengisap-isap atau menggigit-gigit benda tidak sekuat usia sebelumnya. Kadang, dengan mengisap empeng, anak menjadi tenang atau mudah tidur.

Ya, empeng memang banyak digunakan para Moms untuk menenangkan si kecil – sebagai pengganti minum susu. Sebaiknya pada usia dua tahun, anak sudah berhenti mengempeng. Karena, pada usia itu si kecil sudah dapat bersosialisasi dengan lingkungan luar.

Empeng Bukan Jawaban Menangani ”Kerewelan”

Bayangkan jika Moms menghisap empeng di mulut bersamaan sekaligus menarik nafas lewat hidung, hm tentu juga akan sulit bagi si kecil ya Moms. Jadi jangan mudah membiasakan memberikan empeng setiap kali anak rewel tanpa mau tahu apa penyebab kerewelan itu sendiri.

Jika si Kecil rewel itu bisa karena disebabkan berbagai faktor, bisa karena kesepian dan ingin diajak main, kepanasan, kedinginan, tidak nyaman, atau tidak merasa aman. Dengan mengatasi penyebabnya maka ia bisa kembali tenang tanpa empeng.

Tip & Trik Melepas Empeng

Tak ada yang sulit untuk menghilangkan kebiasaan jelek si kecil. Semua bisa dilakukan asal dengan sabar dan telaten, seperti:

1. Tidak membeli empeng baru jika yang lama telah rusak.

2. Jangan biarkan empeng terus menempel di mulut si kecil selama dia beraktivitas.

3. Atur penggunaan empeng menjadi semakin lama semakin jarang memakainya, misalnya berikan empeng saat si kecil tidur saja dan jika anak sedang bermain dengan teman-temannya jangan berikan empeng.

4. Ajak si kecil bermain atau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan agar perhatiannya teralih dari empeng.

5. Buat jadwal aktivitas yang teratur. Misalnya, setiap akhir pekan ada acara jalan-jalan ke kebun binatang atau ke taman sambil melihat berbagai aktifitas di taman dan ia tidak mengempeng dalam satu hari tersebut.

6. Jika si kecil masih sangat sulit melepaskan empeng kesayangannya, Moms bisa mengganti empeng dengan mainan gigitan atau teether. Namun pastikan teether tersebut bersih dan aman baginya.

Bersihkan teether secara teratur. Usahakan sebelum dipakai disterilkan terlebih dulu atau siram dengan air panas kemudian lap hingga bersih. Ingat teether yang kotor dapat menjadi tempat perkembangbiakan bibit penyakit, seperti diare. Jangan lupa juga perhatikan bahan dan bentuk teether, sesuaikan dengan usia jangan sampai tertelan karena mungkin ukurannya yang kecil sehingga mudah tertelan.

7. Ajaklah si kecil berbicara, tanyakan mengapa ia masih membutuhkan empeng. Lalu, jika si kecil merasa gelisah, khawatir akan sesuatu lalu ia mengempeng, maka Moms bisa memberikannya pelukan dan memberikan kecupan manis kepadanya. Berikan hal ini setiap kali ia merasakan hal yang sama.

8. Jangan lupa juga untuk memberikannya pujian setiap kali ia berhasil tidak memakai empeng kesayangannya.

9. Hitung seberapa tahan anak berjuang untuk tidak memakai empengnya, satu hari, dua hari atau satu minggu. Jika berhasil, berikan hadiah atau reward yang berguna, seperti buku atau film. Bisa juga Moms mengajaknya ke tempat pembuatan kue atau membuat kerajinan tanah liat.

10. Berikan motivasi terus bahwa ketika si kecil akan masuk sekolah, semua teman-temannya sudah tidak ada lagi yang memakai empeng. Jika ada waktu luang, ajak anak ke sekolah untuk sekadar melihat aktivitas anak-anak sekolah yang semuanya sudah tidak mengempeng lagi.

Penting untuk Moms Ketahui!

Bayi pada usia tertentu memang memiliki dorongan alami untuk mengisap dan hal ini tidak selalu berarti buruk karena bayi bisa mengatur sendiri kenyamanannya. Dan kebiasaan ini harus dihentikan saat anak berusia 1-2 tahun. Oleh karenanya, hentikan secara bertahap penggunaan empeng ketika usia anak masih di bawah 2 tahun.

Hindari merusak empeng kesayangannya dengan cara merobeknya sedikit atau mengguntingnya ataupun membolonginya. Bongkahan kecilnya akan menyebar dan dapat mengakibatkan masuk ke dalam tenggorokan, tentu saja si kecil bisa tersedak.

Jangan Dibiarkan Terlalu Lama!

Mungkin awalnya Moms menganggap kebiasaan ngempeng sebagai hal yang lumrah dilakukan oleh anak-anak. Namun, tahukah Moms apa yang bisa diakibatkan dari terlalu lama ‘negmepng’ tersebut bagi si kecil?

Si kecil akan menutup mulut pada posisi yang tidak alami karena terdapat empeng di dalamnya, sehingga mempersulit perkembangan lidah dan otot mulut secara normal, akibatnya meminimalkan kemampuan berbicara. Si kecil bisa bermasalah dengan pengucapan kata atau konsonan tertentu seperti huruf “S” atau “Z”.

Memengaruhi pertumbuhan rahang, mengalami gangguan dalam pola makannya dan menghambat pertumbuhan giginya. Empeng juga bisa menyebabkan gigi tonggos.
Jika si toddler terus megempeng dapat berdampak bagi psikologisnya. Bukan tidak mungkin dia menjadi bahan kedekan teman-temannya. Akibatnya, si kecil jadi rendah diri. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...